Wednesday, 11 April 2012

SEBUAH WACANA TENANG ALIRAN MUSIK, IDEALISME MAHASISWA ADMINISTRADI PERKANTORAN

Wednesday, 11 April 2012
            Jazz, blues, pop, rock, punk, electrik, RnB, akustik, emo, ragae, dangdut dan campursasi sampai yang sedang booming dinegeri ini yaitu Boy-Girl Band ala Korea, semua hal diatas adalah genre/ aliran musik. Aliran musik adalah yang melatar belakangi keras, lembut, merdu, atau tidaknya suara atau alunan sebuah musik. Komposisi yang pas dan apik tentunya akan melahirkan sebuah alunan musik yang indah dan enak didengar. Hal ini didorong atau dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya yaitu berasal dari komposer atau musisi pemrancang musik tersebut. Suatu musik atau lagu kadang menyiratkan sebuah makna atau pesan yang diilhami dari suatu pemikiran komposer. Ibarat genre / aliran musik yang beraneka ragam tersebut, kebiasaan, kepribadian masing-masing orang pun berbeda. Entah dari mana kepribadian tersebut muncul.
            Sejauh mata memandang mahasiswa pendidikan administrasi perkantoran baik itu regular / non regular mempunyai aliran kepribadian yang berbeda, mereka yang mempunyai idealismee dengan cara pandang mereka menghasilkan kebudayaan / kebiasaan yang berbeda bahkan tidak akan pernah sama. Pop adalah jenis musik yang paling cepat popular dan cepat redup di Negara ini. Dangdut adalah jenis musik yang dipandang sebelah mata oleh kaum muda bahkan oleh sebagian orang atau kelompok dangdut bersifat negatif. Dan semua aliran musik lainnya pada dasarnya bagus, mempunyai nilai-nilai yang ingin disampaikan, baik itu punk, jazz, blues, rock dll. Tak beda dengan suatu idealismee para mahasiswa prodi kita. Contoh nyatanya dalam kelas saat kita berdiskusi tentang suatu materi, mahasiswa mengutarakan pendapat, pertanyaan, kritikan, saran dipengaruhi oleh idealismeee yang mereka yakini, baik secara  sadar atau tidak hal tersebut akan mempengaruhi cara berfikir kita. Ngotot, pendapat kita yang paling benar, tidak dilandasi oleh fakta nyata, teori yang jelas, kadang terjadi dalam diskusi. Itu semua adalah kewajaran mengingat mahasiswa adalah sedang belajar. Dalam sebuah diskusi dikelas, kenyataannya hanya beberapa saja dari mahasiswa pendidikan administrasi perkantoran yang selalu berpendapat, hingga mungkin pendominasian terjadi dalam sebuah jalannya diskusi. Hal ini dikarenakan mereka yang tidak mengemukakan pendapat bukan karena tidak mempunyai suara atau pengetahuan dibidangnya, namun tingkat percaya diri yang rendah yang melatar belakangi pendapat mereka tidak dikemukakan.
            Sebaliknya mahasiswa khususnya prodi mahasiswa pendidikan administrasi perkantoran adalah tingkat percaya diri yang berlebihan, entah dilatar belakangi karna pengetahuan, pengalaman mereka atau faktor lain. Namun kenyataannya mahasiswa tipe ini akan habis-habisan membela makalahnya atau mempertahankan pendapatnya. Bukankah sebenarnya hal tersebut idealismeee yang berbicara?
            Jika kita runtut hal-hal diatas hanya masalah idealismee, mereka mempunyai idealismee yang berbeda, dengan cara pandang, berfikir yang berbeda. Namun tingkat kesadaran mereka untuk menghargai dengan ikhlas, menerima pendapat, kritikan masih sedikit kurang. Diskusi yang baik adalah diskusi yang menghasilkan sebuah pengetahuan yang baru tentang suatu hal yang didiskusikan, baik itu untuk penyaji makalah dan pendengar atau audiens. Bukan adu kehebatan pengetahuan atau pengalaman. Pengetahuan seharusnya dibagi agar bermanfaat, bukan untuk menjatuhkan sesamanya dalam hal ini mahasiswa lain. Inilah kenyataan yang terjadi, walaupun. Ibaratnya jika pertanyaan kita susah maka kita merasa lebih pintar, dan bangga akan hal tersebut. Hal itu tidak baik. Perbedaan pendapat merupakan sebuah kenyataan dari keberagaman idealismee seseorang yang tertuang dalam sebuah pernyataan yang dikemukakan. Alangkah menyenangkan jika perbedaan tersebut disikapi dengan bijaksana, disikapi dengan cara saling menghargai. Bukan tidak mungkin dalam diskusi di kelas akan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru yang belum kita ketahui sebelumnya, atau sebuah solusi yang dipecahkan melalui pemikiran yang berbeda akan sebuah masalah yang dipaparkan.
            Hal lain yang nyata dalam lingkungan kampus adalah suatu organisasi. Tentunya organisasi berdiri atas sekelompok mahasiswa karena persamaan tujuan meraka bergabung atau membentuk sebuah organisasi. Untuk menjadi anggota sebuh organisasi memang sangat diperlukan persamaan tujuan, namun seharusnya berbeda idealismee. Mengapa berbeda idealismee? Sebuah idealismee akan bekerja menuju arah kreatif. Alangkah kreatifnya organisasi jika anggotanya mempunyai cara fikir yang beragam (baca: tidak berlawanan), maka sebuah out put atau produk dari organisasi tersebut akan apik. Kita bayangkan saja sekarang sebuah musik kadang berdiri dalam beberapa aliran musik, berkat komposer yang handal maka alunan musik yang apik akan tercipta. Fenomenanya organisasi-organisasi dilingkungan kita tidak mempertimbangkan hal tersebut, dan kita bisa lihat sendiri produk atau out put yang dihasilkan, silahkan pembaca menilainya.
            Masalah lain yang dirasa agak eklusif namun sensitive adalah tentang prodi pendidikan administrasi perkantoran apakah Fakultas Ekonomi atau Fakultas Ilmu Sosial. Hal ini tidak hanya menyangkut mahasiswa prodi ini saja namun dosen-dosen dan jajaranya membicarakan hal tersebut. Banyak wacana, spekulasi, pendapat, opini, kenyataan, yang menggambarkan bahwa prodi kita tercinta adalah disiplin ilmu social, atau secara filsafat adalah berakar dari ilmu social. Namun tidak kalah dengan opini, kenyataan ang dipaparkan, spekulasi, pendapat yang menyatakan bahwa prodi administrasi perkantoran sejatinya adalah disiplin ilmu ekonomi, sehingga harus bernaung dalam Fakultas Ekonomi. Dalam hal ini cara berfikir seseorang dalam menanggapi hal tersebut juga dilator belakangi salah satunya, sadar atau tidaknya dari idealisme mereka sendiri. Banyaknya individu, akan melahirkan banyak pemikiran. Tak telaknya dengan mahasiswa, dosen pun ikut berdiskusi mempersoalkan hal tersebut, hingga menjadikan hal ini sensitif. Perbedaan idealisme dalam menanggapi hal ini seharusnya lebih bijaksana dan memperhitungkan arah kedepannya agar tidak ada pihak yang dirugikan. Bukan karena sok idealisme malah merugikan banyak pihak. Atau disebut korban idealisme yang tidak matang. Dan akhirnya sebuah alunan music jazz akan terdengar merdu, tenang, serta elegan jika komposernya mempunyai pemikiran yang bagus dalam meramu aliran musiknya.
 

No comments:

Post a Comment

Setelah membaca mohon isikan komentar Anda..

Mila Caesar © 2014